Pada suatu pagi, seorang laki-laki merenung dan menulis tentang sebuah mula.
Di dalam pelukan kesunyian yang paling purba, terbaring sebuah makna yang menjadi ibu bagi segala wujud, yakni sebuah mula. Ia adalah tarikan napas pertama dari sang waktu yang baru saja terjaga dari tidur panjangnya yang tiada bertepi. Sebelum semesta sempat melukiskan warnanya di atas kanvas ketiadaan, kata inilah yang lebih dulu membisikkan janji tentang adanya kehidupan. Tanpa kehadirannya, sejarah peradaban hanyalah sebuah kekosongan yang membeku, tak bernada dan tak akan pernah bermakna.
Perhatikanlah bagaimana alam semesta selalu merayakan sang mula dalam setiap pementasan panggung dunianya. Ia hadir menyelinap pada rintik hujan pertama yang berani mencium rahim bumi yang sekian lama dahaga. Ia pula yang meretas cangkang keras sebuah benih kecil, memaksanya menyembul sebagai tunas rapuh yang perlahan menantang teriknya matahari. Dalam setiap ufuk timur tempat fajar menyingsing, kata ini kembali diucapkan oleh bias cahayanya, mengusir bayang-bayang malam dengan kelembutan yang tak terbantahkan.
Bagi anak manusia yang senantiasa berkelana di atas hamparan bumi, mula adalah titian pertama yang menjembatani antara ketidaktahuan dan penemuan. Ia bersemayam di dalam tangisan bayi yang memecah keheningan, menandai sebuah epik baru yang siap untuk dituliskan ke dalam takdir. Lebih dari sekadar lahirnya raga, ia juga menjelma dalam getar asing saat dua pasang mata pertama kali saling bertatap lalu merajut benang-benang cinta. Setiap ayunan langkah pertama, setiap goresan pena yang mengawali sebuah mahakarya, semuanya senantiasa berutang budi pada keajaiban kata ini.
Namun, menyapa sebuah mula acapkali menuntut sebentuk keberanian yang tidak kepalang tanggung harganya. Setiap titik awal senantiasa menyimpan kabut misteri yang pekat, seolah menjadi labirin yang menyembunyikan tawa dan air mata di balik setiap tikungannya. Kita dipaksa untuk melepaskan sauh dari pelabuhan masa lalu yang nyaman demi berlayar mengarungi samudra kemungkinan yang belum terpetakan. Meski demikian, justru di dalam ketidakpastian itulah tunas-tunas harapan mendapatkan tempat paling subur untuk memanjangkan akarnya.
Pada akhirnya, mula bukanlah sekadar garis keberangkatan yang akan ditinggalkan dan dilupakan begitu saja saat kita berlari memburu tujuan. Ia sejatinya adalah sebuah siklus abadi, roda yang terus berputar dalam tarian kosmis yang tak pernah mengenal kata lelah. Manakala sebuah babak harus menemui senjakalanya dan mencapai titik usai, di saat yang sama sebuah pintu yang baru akan terbuka lebar. Sebab gugurnya sebuah kisah hanyalah persemaian bagi kelahiran kisah yang lain, membuktikan bahwa sang mula tidak akan pernah benar-benar sirna.